bersama kepimpinan ulamak




Akan Datang




Wednesday, December 21, 2011

Khutbah Jumaat - 28 Muharram 1432 / 23 Disember 2011

MUHASABAH DI AKHIR TAHUN


اَلْحَمْدُ   لِلَّهِ الْقَائِلِ،
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌۭ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۢ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١٨﴾
أَشْهَدُ   أَنْ لَّآإِلهَ إِلَّا اللَّهُ     وَأَشْهَدُ   أَنَّ سَيِّدَنَا  مُحَمَّدًا  عَبْدُهُ,  وَرَسُوْلُهُ
 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ  وَعَلَى آلِهِ   وَأَصْحَابِهِ  وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ !   اتَّقُواْ  اللَّهَ  حَقَّ تُقَاتِهِ  وَلَاتَمُوْتُنَّ  إِلَّا  وَأَنْتُمْ   مُّسْلِمُوْنَ

Wahai hamba-hamba Allah sekelian!

Bertaqwalah sekalian kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Dan Janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam. Saya menyeru diri saya sendiri dan juga sidang Jumaat sekalian agar kita sama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah dengan melakukan segala suruhanNya dan menjauhi segala yang ditegahNya.

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah,

Orang beriman dalam beberapa kesempatan dan waktu, hendaklah berhenti sejenak untuk menghitung-hitung diri dan amal yang telah diperbuatnya pada hari-hari yang lalu, kemudian memperkuat keinginan untuk memperbaiki dan menambah amal kebaikannya. Allah berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌۭ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۢ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١٨﴾

“Hai orang-orang beriman, takut kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah disiapkannya untuk hari esok dan takut kepada Allah, karena Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Hasyr: 18)

Sesungguhnya hari-hari yang berlalu, bulan-bulan yang datang silih berganti, dan tahun-tahun berakhir kemudian datang tahun yang baru, semuanya berjalan dan berlalu dengan maksud dan mengandungi tujuan yang jelas dari Allah. Allah berfirman:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَـٰكُمْ عَبَثًۭا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ ﴿١١٥﴾

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-mukminun: 115)

Sesungguhnya penciptaan alam ini, beserta isinya, beserta manusia yang ada di dalamnya, serta berlalunya hari yang datang silih berganti bukanlah untuk dilalui dengan permainan dan sia-sia belaka, sebagaimana hari-hari itu dilalui oleh mereka yang kafir kepada Allah. Bagi orang beriman tentu tidaklah sama, hari-hari yang mereka lalui ada ketaatan yang dilakukan dan dijalankan. Dalam ayat yang lain Allah menegaskan:

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَـٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ ﴿١٩٠﴾

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Ali-Imran: 190)

Sesungguhnya hidup manusia mempunyai tahap dan dilalui setapak demi setapak namun yang pasti semua penghuni dunia ini akan berangkat menuju ke alam akhirat, dan semuanya sedang bergerak mendekati kematian. Orang yang beruntung adalah mereka yang selalu menghitung dirinya, selalu memperbaiki diri dan istiqomah memohon keampunan kepada Allah dari segala dosa dan salah. Allah berfirman:

مَّنْ عَمِلَ صَـٰلِحًۭا فَلِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَنْ أَسَآءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّـٰمٍۢ لِّلْعَبِيدِ 

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.” (Fushilat: 46)

Hadirin sidang jumaat yang dimuliakan Allah

Sebagai seorang yang bertaqwa kita hendaklah sentiasa menghisab diri kita atas apa yang telah kita perbuat, bertaubat terhadap segala maksiat dan dosa yang kita lakukan, dan berusaha memperbaiki kehidupan ke arah yang lebik baik dari hari-hari semalam. Sabda Rasulullah saw :

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ  - رواه أحمد

Dari Syaddad bin Aus ra. Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang selalu menghisabi diri dan beramal untuk kehidupan selepas kematiannya. Dan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan saja kepada Allah.”

Rasulullah saw menegaskan bahwa seorang yang hanya berangan-angan saja untuk melakukan amal sholeh dan tetap mengikuti keinginan nafsunya adalah mereka yang lemah, lemah karena dikalahkan oleh syahwat. Memang pada dasarnya setiap orang akan dan pernah melakukan kesalahan, berbuat dosa dan maksiat, namun dengan demikian kesedaran dari kekhilafan itulah yang akan membuat seseorang menjadi seorang mukmin yang baik tatkala ia melakukan taubat dengan sebenar-benarnya. Rasulullah bersabda:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ – رواه ابن ماجه

Daripada Anas katanya, sabda Rasulullah saw : “ Semua anak-anak Adam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang bertaubat.”

Hendaklah kita segera bertaubat dari kesalahannya, meminta ampun dan berusaha lari meninggalkan dosa dan siksa akhirat ketika masih ada kesempatan ketika hidup di dunia, karena jika kita tidak berusaha untuk lari dari siksaan dalam kesempatan yang ada di dunia ini, maka kita tidak akan dapat lagi lari dari siksaan Allah di akhirat kelak. Allah swt. berfirman:

حَتَّىٰٓ إِذَا مَا جَآءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَـٰرُهُمْ وَجُلُودُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ﴿٢٠﴾ وَقَالُوا۟ لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدتُّمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوٓا۟ أَنطَقَنَا ٱللَّهُ ٱلَّذِىٓ أَنطَقَ كُلَّ شَىْءٍۢ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍۢ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ﴿٢١﴾

"Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan." (Fushilat: 20-21)

Hadirin Sidang Jumaat yang berbahagia,

Setiap perbuatan kita di dunia ini pasti akan dinilai dan diberi balasan oleh Allah. Bumi sendiripun akan menceritakan setiap kejadian yang berlaku di dalamnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rosulullah suatu ketika membaca firman Allah:

يَوْمَئِذٍۢ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا ﴿٤﴾

“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (Surah Al-Zilzalah: 4)

Para sahabat bertanya, wahai Rasulullah, apa yang dimaksudkan dengan bumi menceritakan setiap kejadiannya? Rasulullah menjawab: “

أَنْ تَشْهَدَ علَى كُلِّ عَبْدٍ أَو أَمَةٍ بِماَ عَمِلَ علَى ظَهْرِها، تَقولُ: عَمِلْتَ كَذَا وَكَذا، فِي يَوْمِ كَذَا وَكَذَا

“Akan bersaksi setiap hamba atau setiap umat terhadap apa yang telah dilakukannya di atas punggungnya, lalu berkata: kamu melakukan ini dan itu pada hari ini dan hari itu.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban)

Khalifah Umar bin Al-Khattab r.a. pernah mengucapkan kalimat yang sangat popular untuk menjadi renungan bersama:

حَاسِبُوْا أَنفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحاَسَبُوْا، وَزِنُوْهَا قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا، وَتأَهَّبُوْْا لِلعَرْضِ الأَكْبَرِ علَى اللهِ

“Hitunglah dirimu sebelum dihitung, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang, dan bersiaplah untuk dihadapkan kepada Allah pada hari penghadapan yang besar.”

Allah swt berfirman :

يَوْمَئِذٍۢ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنكُمْ خَافِيَةٌۭ ﴿١٨﴾

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”. (Surah Al-Haaqah: 18)

Sidang Jumaat yang dimuliakan Allah,

Oleh yang demikian pada kesempatan Jumaat kali ini, di saat kita telah berada hampir di penghujung tahun 2011M ini, sekurangnya ada tiga perkara yang perlu menjadi renungan kita bersama. Kita harus merenung hari-hari yang telah berlalu dan hari-hari yang mendatang agar kita sedar bahawa sesungguhnya setiap jiwa tidak dibiarkan saja hidup semahunya dan akan ada pertanggungan jawaban di akhirat kelak.

Pertama: Apa yang telah kita lakukan untuk diri kita daripada amal-amal soleh sepanjang tahun ini?

Apakah kita telah mengisinya dengan ketaatan di setiap hari-harinya,atau kita wajar bersedih dan menangis kerana kelalaian kita yang berterusan bergelumang dengan kemaksiatan dan kedurhakaan tanpa rasa takut kepada-Nya. Allah berfirman:

وَٱلْأَرْضِ وَمَا طَحَىٰهَا ﴿٦﴾ وَنَفْسٍۢ وَمَا سَوَّىٰهَا ﴿٧﴾ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا ﴿٨﴾ قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ﴿٩﴾ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ﴿١٠﴾

“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.“ (Asy-Syams: 7-10)

Hadirin yang berbahagia

Kedua : Apakah yang telah kita berikan untuk keluarga kita?

Sudahkah cahaya iman kita bawa masuk ke dalam rumah kita. Apakah keluarga kita bergerak seiringan menuju keredhaan Allah? Apakah rumah kita disinari cahaya iman dan dipenuhi amalan kebaikan. Apakah bacaan al-Quran dan solat fardhu dan sunat menjadi hiburan aktiviti yang menyerikan rumah kita atau hanya kesunyian ibarat tanah perkuburan tanpa ada suasana yang mendekatkan kita kepada tuhan. Rasulullah bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْبَيْتُ الَّذِيْ يُقْرَأُ فِيْهِ الْقُرْآنُ يُكْثَرُ خَيْرُهُ وَيُوَسَّعُ عَلَى أَهْلِهِ وَيَحْضُرُهُ الْمَلاَئِكَةُ وَيَهْجُرُهُ الشَّياَطِيْنُ وَإِنَّ الْبَيْتَ الَّذِيْ لاَ يُقْرَأُ فِيْهِ يُضَيَّقُ عَلَى أَهْلِهِ وَيُقِلَّ خَيْرُهُ وَيُهْجُرُهُ اْلمَلاَئِكَةُ وَيَحْضُرُهُ الشَّياَطِيْنُعبد الرزاق

Rasulullah bersabda: “Rumah yang dibacakan di dalamnya Al-Quran akan diperbanyakkan kebaikannya, diluaskan bagi penghuninya, dihadiri oleh malaikat dan syaitan akan menghindainya. Dan rumah yang tidak dibacakan di dalamnya Al-Quran, maka akan merasa sempitlah penghuninya, sedikit kebaikan di dalamnya, malaikat pergi darinya dan dihuni oleh syaitan. (HR. Abdul Razak dan Dailami)

Hadirin yang dimuliakan Allah

Ketiga : Apakah kita sudah memunaikan amanah terhadap jiran tetangga dan masyarakat sekeliling kita.

Sabda Rasulullah saw :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتّ،ٌ  قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ : إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَشَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ.

Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda: Hak muslim atas muslim yang lain ada enam. Sahabat bertanya, apakah itu Ya Rasulullah? Rasul menjawab: Apabila bertemu ucapkanlah salam, apabila ia mengundangmu maka penuhilah, apabila meminta nasihat kepadamu, nasihatilah, apabila ia bersin dan memuji Allah maka doakan ia, apabila sakit jenguklah dan apabila meninggal dunia hantarlah jenazahnya. ( HR. Muslim)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الأيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ








Teks asal khutbah ini juga boleh dimuat turun dari lama web ww.4shared.com. Klik di sini.

Thursday, December 15, 2011

Khutbah Jumaat - 20 Muharram 1433 / 16 Disember 2010

BERGANDING BAHU PERTAHANKAN AKIDAH

اَلْحَمْدُ للهِ الْقاَئِلِ :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّـهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّـهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لاَئِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّـهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّـهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

"Wahai orang yang beriman barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan kepada mereka satu kaum lain yang Allah sayangi mereka dan mereka menyayangi Allah, mereka bersifat lemah lembut sesama orang yang beriman dan bersikap tegas dengan orang-orang yang tidak beriman, mereka berjuang dijalan Allah tanpa rasa takut dan gerun terhadap celaan orang yang suka mencela. Itulah kelebihan Allah kepada sesiapa yang dikehendakinya. Dan Allah Maha luas ilmu dan Maha mengetahui."
(SURAH AL-MAIDAH AYAT: 54)

أَشْهَدُ أَنْ لآ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لآ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ! اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Sidang Jumaat sekelian,

Kalau status kita di dunia ini sering dibeza-bezakan dengan pangkat, darjat, kaya dan miskin namun insaflah kita sekelian bahawa apabila kain kafan membaluti diri kita masing-masing, semuanya akan dinilai semula dengan penilaian sejauh mana pencapaian iman kita, prestasi amal kita dan sejauh mana ketaqwaan kita. Maka, marilah sama-sama kita meningkatkan ketaqwaan kita dengan cara bersungguh-sungguh melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhkan diri dari perkara-perkara yang dilarang Allah.

Khutbah kali ini sekali lagi akan membicarakan persoalan yang perlu diambil perhatian secara serius iaitu persoalan mengenai gejala murtad. Ia sebenarnya tidak berhenti menyerang umat Islam. Ia umpama sejenis virus yang menyerang tubuh badan umat Islam secara senyap tanpa kita sedari. Diayah ini tidak bermusim sebagai mana semangat penentangan terhadap gejala murtad yang bermusim di pihak umat Islam. Hendaklah kita insaf betapa gejala ini adalah musuh kita bersama yang perlu ditangani dengan baik dan serius supaya kaum keluarga dan anggota masyarakat tidak terjerat.

Para hadirin sekelian,

Suku terakhir abad yang ke 20 ini, merupakan satu jangka masa yang memberi sinar dan harapan kepada Islam. Dalam tempoh masa suku yang terakhir ini kita dapati generasi muda dari masyarakat melayu telah mula mendekatkan diri dengan ilmu dan kefahaman Islam yang sebenar, meskipun dalam tempoh yang sama sebelumnya adalah masa yang gemilang bagi pelbagai fahaman ciptaan manusia seperti komunis, sosialis dan nasionalis.

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah,

Fahaman-fahaman ciptaan manusia ini telah menghadapi zaman malap dan semakin hilang tempatnya di dalam masyarakat dalam tempoh 25 tahun yang terakhir ini. Kehilangan dan kemalapan ini telah di ambil alih oleh Islam. Oleh sebab itu dalam tempoh tersebut, kebangkitan di pelbagai peringkat masyarakat bermula dari desa dan kampung hingga ke bandar-bandar besar dan pusat-pusat pendidikan tinggi. Manusia tidak mampu lagi menafikan fitrahnya untuk menerima Islam.

Mereka telah mendampingi dan mempelajari Islam serta turut terlibat di dalam menyebarkan Islam kepada orang lain. Hasilnya begitu ketara di mana pada hari ini secara jelas kita dapat lihat betapa ajaran Islam telah diperluaskan di kalangan masyarakat Melayu, jauh lebih menyeluruh daripada sebelumnya. Kalau kita berjalan ke mana sahaja sekarang ini kita dapati bilangan kaum wanita yang menutup aurat sudah mencapai ke suatu peratusan yang begitu tinggi.

Umat Islam telah mula memecahkan kepompong kefahaman Islam yang sempit kepada satu kefahaman yang lebih luas. Sebab itu pada hari ini umat Islam sudah mula pandai dan berani menuntut dan meminta daripada pihak berkuasa di negeri mereka supaya ajaran Islam perlu dipeluaskan dalam semua kegiatan hidup bermasyarakat, berekonomi dan bernegara. Tidak sebagaimana sebelumnya yang hanya terikat kepada beberapa ibadah khusus semata-mata.

Sidang Jumaat sekelian,

Fenomena ini telah mendapat perhatian dan pengamatan musuh-musuh Islam di Timur dan Barat. Mereka telah memerhati dan memantau keadaan ini dari masa ke semasa. Akhirnya mereka telah merumuskan satu strategi bagi melemah dan menghancurkan Islam melalui pelbagai cara.

Musuh-musuh Islam yang terdiri dari tiga pihak merangkumi penjajah, orientalis dan zionis. Mereka berkumpul dan bersatu tenaga, memikir dan merencana untuk menghancurkan Islam melalui pelbagai bentuk dan cara, antaranya ialah penggunaan media massa, internet, badan- badan bukan kerajaan, pusat-pusat hiburan dan seumpamanya yang menjurus ke arah mengajak masyarakat Islam meruntuhkan akhlak dan keperibadian Islam mereka.

Generasi muda Islam secara beransur-ansur dan perlahan-lahan telah diheret melalui pengaruh media masa untuk dengan budaya serba boleh. Budaya ini dari sudut akidahnya mungkin melahirkan golongan yang berpegang kepada iktikad tidak ada Tuhan atau tidak ada ugama, atau lebih dikenali sebagai 'Free thinker'. Manakala dari sudut akhlak dan tingkahlakunya, ia mungkin melahirkan budaya suka berhibur semata-mata , atau lebih dikenali sebagai hedonism. Kedua-dua budaya ini akhirnya akan meruntuhkan sama sekali akidah Islam yang menjadi pegangan Umat Islam selama ini.

Para hadirin sekelian,

Kita umat Islam mempunyai tanggungjawab dan kewajipan untuk menjaga dan menyelamatkan sekurang-kurangnya lima perkara yang telah diamanahkan oleh Allah secara semula jadi kepada kita, iaitu akidah atau ugama, akal, keturunan, harta dan jiwaraga. Kelima-lima ini adalah fitrah yang ada pada setiap manusia, ia mesti dijaga dan dipertahankan, kalau tidak, kita tidak layak dipanggil manusia. Jikapun di panggil manusia, tetapi hakikatnya hanyalah manusia tanpa kemanusiaan. Ciri-ciri kemanusiaan hanyalah ada pada manusia yang mampu mempertahankan kehormatan dan kemuliaan yang diberikan Allah kepadanya. Islam telah mengajar dan mengarahkan umat supaya kelima- lima perkara ini dijaga dan dipelihara dengan baik.

Murtad adalah perbuatan meninggalkan agama yang bertentangan dengan ajaran Islam seperti yang di sebut tadi. Oleh yang demikian ia mesti ditentang dan dihalang supaya ia tidak berlaku. Murtad ialah satu benda buruk yang mesti dilawan, samada ia memberi kesan kepada orang lain atau tidak . Tetapi perbuatan murtad itu sendiri adalah satu perbuatan yang buruk yang mesti ditentang. Murtad seperti kegiatan jenayah yang lain yang mesti dibendung dan dihapuskan. Haramnya murtad seperti juga zina, begitu juga undang-undang mewajibkan pakai topi keledar. Asalnya undang-undang dibuat bagi mengelak kematian apabila berlakunya kemalangan jalanraya. Apabila undang-undang dikuatkuasa ia tetap dianggap salah jikalau tidak pakai tanpa merujuk samada berlaku kemalangan atau tidak.

Begitu juga dengan arak, ia haram dan tetap haram walaupun sedikit dan tidak memabukkan dan tidak mengacau orang lain. Masalah murtad adalah masalah kita bersama, ia bukan masalah peribadi orang yang murtad atau keluarganya sahaja, seperti dalam kes yang berlaku kepada Siti Aishah dan keluarga Hj.Bukhari, ia adalah masalah masyarakat dan negara umat Islam.

Kegiatan murtad ini kalau dibiarkan berleluasa, ia akan menimbulkan kemurkaan Allah kepada seluruh umat manusia dari masyarakat tersebut. Sebab itu Allah menyebutkan di dalam, al-Quran yang dibacakan dalam mukadimah khutbah tadi. Bahawa apabila sesuatu kaum yang beriman itu murtad, maka Allah akan menggantikannya dengan kaum yang lain. Penggantian satu kaum dengan satu kaum yang lain bukanlah satu proses yang mudah dan senang. Ia bukanlah sahaja mengambil masa yang panjang, tetapi terpaksa mengalami penderitaan dalam kehidupan sementara untuk hilang dan lenyap dari permukaan bumi. Kalau tidak keterlaluan barangkali kita boleh ambil contoh umat Islam di Rusia.

Sewaktu Rejim komunis Rusia berkuasa, kebanyakan umat Islam yang ada di dalam negara mereka terpaksa murtad dan menerima fahaman kominis. Apabila rejim komunis itu runtuh dan umat Islam bangkit semula, berlakulah penghapusan etnik secara berbunuhan beramai-ramai seperti yang berlaku di Bosnia dahulu dan di Kosovo sekarang. Keadaan yang seumpama ini sudah tentu amat menyiksakan, tetapi inilah balasan Tuhan seperti yang dijanjikan melalui al-Quran.

Para hadirin sekelian,

Orang yang murtad pada asalnya ialah orang Islam. Mereka sudah pernah merasa nikmat beriman kepada Allah, mereka sudah dapat nikmat hidup bermasyarakat, berumahtangga dan nikmat daripada halal haram yang telah diamalkan oleh Islam. Oleh sebab itu apabila mereka masih lagi memilih untuk murtad walaupun sudah faham dan beramal dengan Islam, ini menunjukan bahawa kejahatan dan kebuasan nafsu dalam diri mereka sangat kuat. Oleh hal yang demikian golongan seperti ini patut sangat di hukum dengan hukuman yang berat seperti dibunuh.

Para hadirin sekelian,

Dalam kegawatan ekonomi yang berlaku sekarang, ada orang bimbang bahawa kegawatan ini boleh menyebabkan manusia menjadi miskin. Dengan kemiskinan tersebut boleh menjadikan manusia murtad kerana ada hadis yang bermaksud sedemikian, akan tetapi kita tidak harus lupa bahawa kekayaan juga kadang-kadang boleh menyebabkan kita menjadi taghut. Ini bermakna bahawa murtad ini adalah satu gejala yang boleh berlaku samada dalam keadaan kita senang ataupun kita susah. Apa yang penting kepada kita bukanlah kekayaan dan kemiskinan. Sebaliknya adalah tanggung jawab kita untuk menjaga dan membendung sebarang anasir yang boleh membawa kepada merebaknya gejala tersebut.

Antara tindakan yang patut diambil ialah mempertegakkan hukuman yang telah ditentukan oleh Allah terhadap sesiapa sahaja yang terlibat dengan gejala ini. Sementara api murtad itu masih kecil dan masih mudah untuk dipadamkan, maka kita tidak boleh boleh lagi berdolak dalik dan bermain-main dengannya. Jika tidak apabila sudah menjadi besar, sudah tentu kita tidak ada kemampuan lagi untuk mengatasinya.

Kita sepatutnya mengambil pengajaran dari peristiwa-peristiwa dan kesilapan-kesilapan yang lalu. Diwaktu umat Islam masih banyak bilangannya di negara ini, wajarkah kedudukan Islam dan perundangan kita buat sambil lewa sahaja.

Oleh hal yang demikian seluruh umat Islam di negara ini hendaklah mengambil bahagian dan memainkan peranan supaya kita benar-benar mampu menjadi tenaga penggerak agar gejala murtad ini benar-benar diambil perhatian dan tindakan undang-undang yang sewajarnya seperti yang diajar adalah kejayaan Islam dan kegagalannya pula adalah satu bencana kepada umat Islam di negara ini. Sementara masa dan waktu masih ada, dan Allah memberi peluang ini sepenuhnya semuga kita tidak termasuk didalam golongan yang dimurkai olehNya.

Sidang Jumaat yang dimuliakan Allah,

Marilah setiap daripada kita menjadi muslim yang sentiasa sensitif kepada setiap perkara yang berlaku kepada agama Islam dan umat Islam di mana-mana sahaja ia berlaku samada di luar Negara lebih-lebih lagi apabila ia berlaku di dalam Negara kita. Marilah kita sentiasa menyiapkan diri, sentiasa siap siaga menjadi tentera-tentera Allah, pembela-pembela agama yang sentiasa bertindak balas terhadap apa juga yang menyentuh soal agama Islam dan Umat Islam.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الأيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.





Teks asal khutbah ini juga boleh dimuat turun di laman www.4shared.com. Klik di sini.

Friday, December 9, 2011

Khutbah Jumaat - 13 Muharram 1433 / 09 Disember 2011

Bersegera Lakukan Amal Kebaikan Elak Timbul Fitnah


الْحَمْدُ لِلَّهِ الْقَائِلِ:
 الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ 
وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ 

أَشْهَدُ أَنْ لَّاإِلهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ   

الْلَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 

وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ، 

فَيَا عِبَادَ اللهِ! اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Wahai hamba-hamba Allah !

Bertaqwalah sekalian kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Dan Janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam. Saya menyeru diri saya sendiri dan juga sidang Jumaat sekalian agar kita sama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah dengan melakukan segala suruhanNya dan menjauhi segala yang ditegahNya.

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah,

ALHAMDULILLAH, kita telah pun berada di minggu kedua dalam bulan Muharram. Dengan kalimah tahmid kita panjatkan kepada Yang Maha Esa kerana memberi peluang dan memakbulkan doa untuk bertemu serta meneruskan perjuangan dalam kehidupan bersama tekad di tahun baru 1433 Hijriah. ketika menyedari bahawa kita sudah berada di lembaran baru dalam catatan diari hijrah ini, sesekali terasa ibarat dikejutkan daripada tidur yang lena. Begitulah pantasnya masa setahun berlalu meninggalkan kita. Masih teringat azam tahun lalu yang masih belum dapat ditunaikan sebahagian atau kesemuanya. Terkadang timbul penyesalan sedangkan masa berlalu tidak akan kembali lagi. Pepatah Melayu menyebut, ‘sesal dulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna.’ Kedatangan tahun baru seperti ini bukan untuk dikesali tetapi diinsafi dan membangkitkan semangat bagi mengorak langkah yang lebih bererti.

ISLAM memerintahkan umatnya untuk bersegera dalam melakukan kebaikan kerana ia akan memberikan ketenangan jiwa dan kesejahteraan hidup dunia akhirat. Dalam hal ini, Allah berfirman: 

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتُ 

 وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٣﴾

“Dan segeralah kamu kepada (mengerjakan amal yang baik untuk mendapat) keampunan daripada Tuhan kamu, dan (mendapat) syurga yang bidangnya seluas segala langit dan bumi, yang disediakan bagi orang yang bertakwa.” – (Surah Ali Imran, ayat 133).

Muslimin mukminin yang berbahagia,

Islam ialah Ad-Din iaitu cara hidup yang penuh dengan amal, menggalakkan umatnya sentiasa bergerak aktif, kreatif dan inovatif serta berkualiti dalam melakukan sesuatu amalan. Islam tidak menghendaki umatnya menjadi umat yang lemah, rendah diri dan berdiam diri.

Dalam Islam, kerja keras sedemikian adalah terhormat, amalan bersegera sedemikian diiktiraf, manakala bersikap pasif dan malas amat dilarang Islam. Oleh kerana itu, Rasulullah SAW sering berpesan kepada umatnya supaya tidak mensia-siakan waktu yang terluang yang berlalu begitu saja tanpa pengisian amal yang terbaik. Setiap Muslim hendaklah menginsafi bahawa waktu yang sedang berlangsung ini sangat berharga dan tidak dapat diganti sama sekali.

Kekosongan yang tidak diisi dengan amal kebaikan akan terisi oleh keburukan dan begitu juga, kesempatan yang tidak diambil akan segera terlepas daripada tangan. Allah memberi panduan supaya setiap Muslim setelah selesainya menunaikan satu amalan, maka waktu yang kosong hendaknya diisi dengan amalan lain yang berfaedah dan berkebajikan. Bukankah Allah SWT berfirman:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ ﴿٧﴾

“Kemudian apabila engkau telah selesai (daripada sesuatu amal salih), maka bersungguh-sungguhlah engkau berusaha (mengerjakan amal salih yang lain). – (Surah al-Insyirah, ayat 7).

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah,

Kemajuan dan kemunduran seseorang, bahkan martabat sebuah bangsa sangat bergantung rapat pada kesediaan mereka dalam bersegera melaksanakan pekerjaan dan aktiviti produktifnya. Semakin lambat mereka menyelesaikan masalahnya, semakin terencat pula kemajuannya, sebaliknya semakin cepat mereka menerajui aktivitinya, maka kemajuan akan segera berada di depan mata.

Justeru, pekerjaan yang biasa kita lakukan di pagi hari, tidak selayaknya kita tunda sehingga petang hari dan begitu juga, kerja yang biasa kita selesaikan pada siang hari, adalah sangat malang jika kita fikirkan untuk menyelesaikannya pada malam hari pula.

Oleh itu, lakukanlah aktiviti hari ini dengan sebaik-baiknya kerana kita ditentukan oleh hasil kerja kita pada hari ini. Sehubungan itu, Rasulullah SAW bersabda: 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا 
بِالأَعْمَالِ فِتَنًا  كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا 
وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

“Daripada Abu Hurairah bahawa Nabi (saw) bersabda; Bersegeralah melakukan amal salih (kebajikan), (kerana) akan berlaku fitnah seumpama malam yang gelap gelita. Dalam keadaan itu, terdapat seseorang pada paginya mukmin, petangnya menjadi kafir dan begitu juga sebaliknya seseorang yang petangnya kafir, kemudian pada sebelah paginya, dia menjadi mukmin. Dia menjual agamanya demi kepentingan dunia yang sedikit. (Hadis Riwayat Muslim).

Muslimin mukminin yang dikasihi,

Dalam hadis ini Nabi SAW menggesa umat Islam memperbanyakkan amalan salih dan bersegera melakukannya serta tidak menangguh amalan terbabit. Akan datang satu masa nanti berlaku fitnah atau malapetaka besar yang menjadi penghalang bagi seorang mukmin melaksanakan amalan kebaikan. Fitnah itu berlaku tanpa diketahui sebabnya dan ia merebak dalam kehidupan manusia tanpa disedari. Malah, mereka tidak dapat menghalang apatah lagi meninggalkannya. Ia umpama malam yang gelap gelita. Pada ketika itu, manusia sibuk menghadapi fitnah ini, maka terhenti amalan kebaikan yang sepatutnya dilakukan demi menjamin kejayaan dunia dan akhiratnya.

Kedahsyatan fitnah dan malapetaka ini berlaku sehingga seseorang Muslim itu menjadi seorang mukmin pada sebelah paginya dengan mendirikan solat, mengerjakan ibadat dituntut, mendirikan syiar Islam, akan tetapi pada waktu petangnya kufur kerana melakukan perbuatan syirik kepada Allah SWT. Hal ini kerana imannya tidak kukuh, sekukuh iman para sahabat yang dididik Rasulullah SAW. Kelemahan iman ini menyebabkan seseorang itu menjual agamanya semata-mata ingin mendapatkan habuan dunia bersifat sementara.

Akhirnya, neraca penilaian di dalam diri seseorang menjadi songsang, sehingga beliau melihat dunia sebagai matlamat utama, dan melihat kebahagiaan akhirat tiada nilai. Kedahsyatan fitnah dan malapetaka ini, menyebabkan iman seorang Muslim itu berdolak-dalik. Sesungguhnya fitnah itu amat berbahaya dan dapat bergerak dengan pantas. Sekali kita membiarkannya maka selanjutnya ia bertapak dan berkembang dalam tubuh kita. Begitu cepat sehingga menyebabkan seseorang bertukar agama, menggadaikannya dengan kesenangan dunia. Maka tidak hairanlah Rasulullah SAW memperingatkan sahabat dan umatnya sewaktu mendepani perjalanan hidup yang penuh cabaran.

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah,

Selanjutnya, pintu fitnah ini boleh ditutup dengan amal salih. Apa saja dilakukan dalam hidup seorang Muslim akan menjadi amal kebaikan. Bercakap benar dan tidak bohong itu amalan mulia. Mendoakan kesejahteraan untuk saudara seislam tanpa pengetahuan mereka, juga amal salih dan lain-lain amalan kebaikan yang berlangsung dalam setiap sendi kehidupan umat sejagat. Allah SWT Maha Adil kerana memberi peluang kepada hamba-Nya, baik miskin mahu pun kaya, masing-masing memiliki kesempatan melakukan amal kebajikan dan mendapat keredaan. Lebih daripada itu, sesuatu amal tidak dilihat dari sudut kuantiti, tetapi dilihat dari sudut kualitinya, iaitu motivasi dan niatnya. Pendek kata, kualiti amal seseorang itu amat bergantung kepada motivasi dan niatnya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ 

وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ 

وَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الُمْسِلِمْينَ وَالمُسْلِمَاتِ 

وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ فَيَا فَوْزَ المُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْن




Teks asal khutbah ini boleh juga di muat turun dari lama www.4shared.com. Klik di sini.

Friday, December 2, 2011

Khutbah Jumaat - 06 Muharram 1433 / 02 Disember 2011





Cabaran Masakini Dalam Membina
Masyarakat Islam Cemerlang


الْحَمْدُلِلهِ الَّذي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لَا أَنْ هَدَانَا الله ,
أَشْهَدُ أَنْ لآ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لآ شَرِيْكَ لَهُ  وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ! اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.


Wahai hamba-hamba Allah !

Bertaqwalah sekalian kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan Janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam. Saya menyeru diri saya sendiri dan juga sidang Jumaat sekalian agar kita sama-sama memperbaharui serta mempertingkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah dari masa ke semasa dengan melakukan segala suruhanNya dan menjauhi segala yang ditegahNya. Mudah-mudahan kita beroleh kesejahteraan di dunia lebih-lebih lagi di Akhirat.

Saudara-saudara kaum Muslimin,

Di dalam menjalani kehidupan di dunia ini kita semua tidak sepi dari menghadapi cabaran dan dugaan. Di antara hikmah dari cabaran dan dugaan yang dihadapi ialah untuk melatih dan mengajak kita supaya berfikir dengan lebih terbuka lagi. Ia juga dapat menambahkan pengalaman serta kemantangan kita dalam menempuhi masa-masa mendatang. Allah s.w.t telah berfirman di dalam Surah al-Baqarah ayat 269 :

وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ ﴿٢٦٩﴾


“Dan tiadalah yang dapat mengambil pengajaran (dan peringatan) melainkan orang-orang yang menggunakan akal fikirannya”.

Untuk kita mencapai matlamat melahirkan masyarakat Islam cemerlang yang menjadi contoh, kita pasti akan didatangi dengan pelbagai cabaran dan dugaan. Antara cabarannya ialah menjalani kehidupan dalam arus kemodenan. Persoalannya di sini, adakah Islam menghalang kita dari mencapai kemajuan dan kemodenan? Adakah Islam hanya agama ritual, yang hanya menyuruh kita duduk di tikar sembahyang sahaja?

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah,

Agama Islam amat mementingkan kemajuan samada kemajuan dari segi rohani dan jasmani. Atas dasar ini, Islam sekali-kali tidak menghalang umatnya mencapai kemajuan dan kemodenan. Rasulullah s.a.w sendiri sangat mengalakkan umat Islam untuk menuntut ilmu demi kemajuan. Baginda mengingatkan kita agar menjaga masa muda kita untuk mencapai kemajuan.

Maka atas dasar ini, kehidupan di dalam arus kemodenan bukanlah satu perkara yang salah di sisi ajaran Islam. Malahan jika kita memanfaatkannya dengan sebaik mungkin tanpa mengenepikan nilai-nilai serta prinsip-prinsip dasar agama Islam, kita mampu untuk hidup dalam arus kemodenan dan menjadi masyarkat contoh, masyarakat yang mempunyai jati diri dan nilai-nilai murni.
Akan tetapi apa yang menyedihkan kita sebagai umat Islam sekarang ini, ialah sikap segelintir masyarakat Islam yang mengenepikan ajaran Islam untuk hidup dalam kemodenan berasaskan cara hidup barat . Islam dikatakan kolot dan tidak sesuai untuk diamalkankan di dalam dunia sekarang ini. Sesungguhnya dakwaan sebegini tidak berasas sama sekali. Hakikatnya sebagai Muslim yang sejati, kita mampu untuk menjadi maju serta mampu menyesuaikan diri dalam kehidupan serba moden.

Muslimin yang berbahagia,

Sebagai contoh, dalam keluarga Islam, ibu bapa memainkan peranan yang amat penting dalam mendidik anak-anak menghayati nilai-nilai Islam, seperti sifat amanah, bertanggungjawab serta nilai-nilai Islam yang lain. Ini amatlah penting bagi mereka agar dapat membezakan antara yang baik dan buruk, serta dapat menyesuaikan diri di dalam kehidupan yang moden. Dan dalam masa yang sama menjadi individu Muslim yang cemerlang. Jika agama Islam tidak diamalkan dan ditanamkan di dalam keluarga tersebut, unsur-unsur kehidupan yang bertentangan dengan Islam akan mudah mempengaruhi keluarga itu.

Islam yang dikatakan kolot itu sebenarnya membawa kemajuan dan kejayaan di dalam dunia kemodenan ini. Ini kerana kadang-kala apa yang kita fikirkan baik untuk kita, sebenarnya adalah sebaliknya. Bersesuaian dengan firman Allah di dalam surah Al-Baqarah ayat 216 :

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴿٢١٦﴾

“Dan berkemungkinan kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan berkemungkinan kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. dan (ingatlah), Allah jualah Yang mengetahui (semuanya itu), sedang kamu tidak mengetahuinya”.


Sidang Jumaat yang dirahmati Allah,

Maka bagaimanakah kita mampu hidup dalam arus kemodenan ini tanpa mengadaikan agama Islam yang murni? Apakah ciri yang perlu ada pada kita untuk mengatasi cabaran kemodenan ini?

Di antara ciri yang perlu ada pada masyarakat Islam adalah berpegang teguh pada prinsip Islam serta menyesuaikan diri dengan konteks yang berubah. Untuk merealisasikan ciri ini, masyarakat Islam perlu memaparkan keihsanan kepada masyarakat lain. Antara caranya adalah dengan memberikan ucapan hormat kepada mereka apabila kita bertemu mereka yang bukan Islam. Dalam hal ini para ulama’ kontemporari berpendapat di dalam kehidupan masyarakat majmuk yang berbilang kaum seperti di Malaysia ini, seorang Muslim dibenarkan untuk menjawab ucapan selamat untuk mereka yang bukan Islam, untuk merealisasikan konsep ihsan dan memaparkan kecantikan Islam. Ini tidak bercanggah dengan prinsip Islam dan ia bersesuaian dengan firman Allah :

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍۢ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا ﴿٨٦﴾


“Dan apabila kamu diberikan penghormatan dengan sesuatu ucapan hormat, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah dia (dengan cara yang sama). Sesungguhnya Allah sentiasa menghitung tiap-tiap sesuatu”.

Muslimin yang berbahagia,

Ciri seterusnya adalah mengamalkan Islam lebih dari sekadar bentuk atau ritual agar dapat menyesuaikan diri dengan arus kemodenan. Sebagai contoh, Seorang Muslim boleh menjadi contoh teladan kepada masyarakat lain dengan menunjukkan akhlak yang baik serta ketekunan di dalam melakukan pekerjaan.

Umat Islam harus menanamkan kepercayaan bahawa setiap pekerjaan yang dilakukan kerana Allah akan mendapat ganjaran. Dengan cara ini, umat Islam akan menjadi lebih berkesan serta mampu bersaing dengan masyarakat lain.

Ini merupakan sebahagian dari ciri yang perlu ada untuk masyarakat Islam mencapai kecemerlangan.

Semoga dengan kita menghayati ciri masyarakat Islam cemerlang, kita mampu menjadi seorang Islam yang baik serta mampu hidup dalam arus kemodenan.


بَارَكَ اللهُ لِىْ وَلَكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنفَعَنِىْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ ِليْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَيَا فَوْزَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَياَ نَجَاةَ التَّاءِبِيْنَ. 



  





Teks asal khutbah ini juga boleh dimuat turun dari laman perkongsian 4shared. Klik di sini.

KULIAH SETIAP AHAD MINGGU KEDUA




Kempen Tiga B